Luthfania Andriani atau yang akrab disapa Nia adalah salah satu siswi kebanggaan SMA YPS Soroako. Berkat kerja keras dan semangat pantang menyerahnya, kini ia telah bersekolah di  Herrin Illonois, USA . Gadis yang kini genap berusia 17 tahun ini mengikuti salah satu program pertukaran pelajar selama setahun yakni Kennedy Lugar-Youth Exchage Student Year Program 2016 (KL-YES YP 16-17).

 

Awalnya ia terinspirasi dari pengalaman salah satu peserta program yang sama yakni Bapak Achmad Gunara (Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako 2014/2015 ) yang dulunya bersekolah di Belgia.

 

Gadis kelahiran Sorowako, 31 Agustus 1999 ini kemudian menyimpan mimpi terbesarnya untuk mengikuti program ini sejak masuk SMA. Perjalanan yang sulit memang untuk mencapai keberhasilan itu, mulai dari tes yang sangat berat, mengurus berkas-berkas yang membuatnya langganan dengan toko tempat fotokopi dan print, sampai bolak-balik rumah sakit untuk mengurus berkas kesehatan.

 

Sempat ingin mundur karena suatu hal, tetapi berkat dukungan dan dorongan dari teman-teman dan guru-guru SMA YPS Soroako, ia kembali bersemangat dan melanjutkan mimpi besarnya itu. Akhirnya, setalah 1001 rintangan suka dan duka tes, gadis berkacamata ini berangkat ke USA bersama 84 anak se-Indonesia lainnya yang  mengikuti program AFS-YES YP 16-17 dari total 128 anak yang berangkat ke 20 negara dengan program yang sama.

 

​Putri pertama pasangan Bapak  Aryadi Latif dan Ibu Risnawati ini tak menyangka akhirnya bisa menginjakkan kakinya di US. Ia sempat terharu dan menangis, namun ini berarti tantangan terbesarnya telah ada di depan mata.  Ia tak mendengar bahasa negaranya lagi disana, semua orang berbicara dalam bahasa inggris dengan sangat cepat dan mahir. Tak hanya itu, kehidupan yang berbeda dengan Indonesia membuatnya harus pandai-pandai menyesuaikan diri di sana. Untung saja hostfam (keluarga yang mengasuhnya selama program ini) menerimanya dengan sangat ramah bahkan sampai mendekorasi kamar untuknya.

 

Namun, tantangan terbesarnya adalah ia sebagai satu-satunya muslim di kota itu sehingga ia harus menguatkan diri atas pemikiran buruk masyarakat di lingkungannya tentang islam. Di balik itu semua, ia sangat senang karena bisa mendapatkan kesempatan ini, ia bertemu dengan banyak teman baru,bertukar pikiran, saling berbagi informasi, dan yang paling ia senangi adalah menceritakan tentang hidupnya di Indonesia kepada teman-temannya.

 

Untuk bisa beradaptasi disana, gadis ini pun harus keluar dari zona nyamannya karena dengan begitu ia bisa mendapatkan kebahagiaan barunya. Meskipun baru sebulan tinggal disana, ia banyak mencoba hal-hal yang  selama ini ia takutkan. Salah satunya adalah untuk pertama kali dalam hidupnya ia menaiki rollercoaster .

 


Ada banyak hal yang gadis ini kagumi dari kehidupan di USA, diantaranya keaktifan siswanya yang tidak hanya semangat untuk mengikuti kegiatan di sekolah, tapi juga kegiatan di luar sekolah, semua siswa aktif dalam mengikuti club-club yang ada di sekolah meskipun ada banyak tugas yang harus dikerjakan.

 

Satu hal lagi yang tak ia sangka akan ia rasakan adalah rasa cinta kepada tanah air semakin besar dan makin melekat di hatinya. Saat melihat bendera Indonesia, ia selalu menangis karena rindu, lagu-lagu nasional bangsa Indonesia kini menjadi lagu favoritnya. Ia pun berharap bisa menjadi duta kecil Indonesia yang baik dan bisa mengharumkan dan membanggakan negeri Indonesia tercinta.

 

Reporter : Asyifa Aulia Rahma

Editor : Tamsiruddin